Recently Published
Density of ESG Disclosure: A Violin Plot Analysis of ASEAN-6 (2023)
This visualization moves beyond simple averages to explore the density and distribution of ESG disclosure scores across the ASEAN-6 region. By using a violin plot combined with internal boxplots, we can see the "shape of compliance" in each country. While Thailand (TB) shows a concentration of high-scoring firms, Vietnam (VN) remains tightly clustered in the early-adoption phase. This plot effectively highlights the reporting "texture" and maturity of each Southeast Asian market.
ASEAN-6 ESG Performance Matrix: Sector vs. Country (2023)
This heatmap provides a granular, cross-sectional view of ESG disclosure scores across the ASEAN-6 region in 2023. By mapping 11 GICS sectors against six major economies, the visualization highlights specific areas of strength, such as Thailand's (TB) outperformance in Utilities (55) and Materials (15). It also visually isolates data gaps and areas requiring improved transparency, offering a valuable benchmarking tool for evaluating regional corporate governance and sustainability reporting standards.
ASEAN-6 ESG Disclosure Trends: A Regional Comparison (2016-2023)
This line chart tracks the evolution of corporate Environmental, Social, and Governance (ESG) disclosure scores across six major Southeast Asian economies using Bloomberg panel data. The visualization highlights the competitive landscape of sustainability reporting in the region.
Thailand (TB) consistently leads the pack, while Malaysia (MK), the Philippines (PM), and Singapore (SP) maintain tight competition. Meanwhile, Indonesia (IJ) demonstrates steady upward progress, and Vietnam (VN) begins to close the reporting gap in recent years.
ESG Disclosure Growth by GICS Sector: A 2016 vs 2023 Comparison
This dumbbell plot illustrates the growth trajectory of average ESG disclosure scores across various GICS sectors, comparing the baseline year of 2016 (red dots) to 2023 (green dots). Ranked by their 2023 performance, the visualization highlights a crucial insight: heavily regulated and resource-intensive industries such as Utilities (55), Materials (15), and Energy (10) are leading the global transparency movement. In contrast, service and technology-oriented sectors remain at the lower end of the disclosure spectrum, despite showing positive overall growth.
Evolution of Global ESG Disclosure Distribution (2016-2023)
A ridgeline plot visualizing the density and distribution of ESG disclosure scores across global companies from 2016 to 2023 using Bloomberg panel data. The visualization highlights a clear shift in corporate sustainability reporting behavior showing a transition from predominantly low, highly concentrated scores in 2016 toward a broader distribution with higher overall compliance by 2023.
The Rise of ESG: Global Disclosure Trends Across Industries
An analysis of corporate ESG transparency from 2016 to 2023 using Bloomberg data. The graphic illustrates how different sectors are progressively adopting and improving their ESG disclosures over time, with sectors like Utilities (55) and Materials (15) consistently leading the scores. (Note: 2024 data was dropped due to incomplete data reporting).
Sector Codes:
10=Energy, 15=Materials, 20=Industrials, 25=Consumer Discretionary, 30=Consumer Staples, 35=Health Care, 40=Financials, 45=IT, 50=Communication Services, 55=Utilities, 60=Real Estate.
Pemetaan Ketergantungan Fiskal: Proporsi Pendapatan Asli Daerah (PAD) vs Dana Transfer (TKDD) Top 15 Pemda Jawa Timur 2024
Figur ini menyajikan analisis struktur kemandirian keuangan daerah menggunakan 100% Stacked Bar Chart pada postur APBD 15 Kabupaten/Kota dengan total pendapatan terbesar di Provinsi Jawa Timur tahun anggaran 2024.
Analisis ini membandingkan dua penyusun utama pundi-pundi daerah:
1. Kemandirian (PAD): Kemampuan daerah mencetak 'revenue' sendiri melalui pajak dan retribusi.
2. Suntikan Pusat (TKDD): Tingkat ketergantungan daerah terhadap Transfer ke Daerah dan Dana Desa (DAU, DAK, DBH).
Visualisasi ini secara kontras memperlihatkan disparitas kemandirian fiskal. Daerah urban/metropolitan cenderung memiliki porsi warna PAD yang dominan, sementara sebagian besar kabupaten masih sangat mengandalkan 'napas' dari dana transfer pemerintah pusat. Pemetaan ini krusial untuk evaluasi tata kelola sektor publik, serta menjadi indikator awal dalam credit risk assessment jika pemerintah daerah berencana melakukan pembiayaan/pinjaman daerah.
Pemetaan Captive Market Transaksional: Analisis Potensi Payroll dan Vendor Financing Pemda Jawa Timur (2024)
Figur ini menyajikan analisis postur belanja APBD dari kacamata perbankan institusional (wholesale banking) dan manajemen kas daerah. Menggunakan data realisasi APBD tahun 2024, visualisasi ini membedah pengeluaran 15 Kabupaten/Kota terbesar di Jawa Timur ke dalam dua 'captive market' utama:
1. Ekosistem Payroll ASN (berasal dari Belanja Pegawai) yang menjadi jangkar likuiditas ritel (CASA).
2. Aliran Dana Pihak Ketiga (berasal dari Belanja Barang/Jasa dan Modal) yang merepresentasikan volume transaksi kepada vendor/kontraktor.
Pemetaan ini sangat relevan untuk melihat perputaran uang di daerah sekaligus mengukur potensi penetrasi layanan transactional banking, seperti vendor financing, giro korporasi, hingga ekosistem platform digital cash management (direct business).
Analisis Inefisiensi Penyerapan Anggaran: Top 15 Daerah dengan 'Idle Cash' (Surplus) Tertinggi di Jawa Timur (2024)
Figur ini menyajikan analisis manajemen kas (cash management) pada postur APBD Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Timur untuk tahun anggaran 2024. Fokus utama analisis ini adalah memetakan daerah dengan tingkat Surplus Kas tertinggi, yakni selisih positif antara Realisasi Pendapatan dan Realisasi Belanja.
Nilai surplus yang masif mengindikasikan adanya 'Idle Cash' (dana menganggur) atau SiLPA pada akhir tahun. Dari perspektif akuntansi sektor publik, hal ini menunjukkan inefisiensi penyerapan anggaran yang seharusnya dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk program pembangunan. Sementara dari perspektif perbankan institusional (wholesale banking), data ini memetakan potensi likuiditas (Dana Pihak Ketiga) yang mengendap di perbankan daerah.
Pemetaan Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah di Jawa Timur: Analisis Kuadran Kemandirian Fiskal vs Produktivitas Belanja (2023)
Analisis visual ini memetakan postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dari 38 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2023 menggunakan pendekatan scatter plot kuadran.
Pengukuran didasarkan pada dua rasio utama:
1. Rasio Kemandirian (Sumbu X): Persentase Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Total Pendapatan.
2. Rasio Produktivitas (Sumbu Y): Persentase Belanja Modal terhadap Total Belanja.
Visualisasi ini menyoroti disparitas perilaku manajerial keuangan daerah. Terdapat temuan menarik, seperti dominasi Kota Surabaya pada kuadran kemandirian tinggi, serta anomali pada daerah penghasil migas (seperti Bojonegoro dan Tuban) yang memiliki rasio belanja modal sangat tinggi meski tingkat kemandirian fiskalnya berada di bawah rata-rata provinsi. Laporan ini dapat menjadi landasan evaluasi efisiensi dan kemandirian anggaran sektor publik.
Analisis Struktur Belanja APBD: Tren Nasional vs Deep-Dive Provinsi Jawa Timur (2005-2025)
Dokumen ini menyajikan analisis komprehensif mengenai pola fiskal daerah di Indonesia selama dua dekade terakhir. Laporan ini mencakup dua fokus utama:
1. Perbandingan agregat Anggaran vs Realisasi Belanja seluruh provinsi untuk mengukur efisiensi penyerapan anggaran.
2. Analisis mendalam (Deep-Dive) struktur belanja Provinsi Jawa Timur menggunakan Akun Konkordansi (Level 2a) untuk melihat transformasi komposisi belanja Pegawai, Barang Jasa, dan Modal.
Analisis ini disusun sebagai bagian dari eksplorasi data science dalam konteks Akuntansi Sektor Publik.
Analisis Tren Fiskal: Perbandingan Anggaran vs Realisasi Belanja APBD Seluruh Provinsi Indonesia (2005-2025)
Laporan ini menyajikan analisis mendalam mengenai kapasitas penyerapan anggaran pemerintah daerah di Indonesia selama dua dekade terakhir. Menggunakan dataset APBD Series, visualisasi ini menyoroti dinamika antara Anggaran Murni dan Realisasi Belanja. Analisis ini bermanfaat untuk melihat efisiensi fiskal serta dampak peristiwa besar (seperti pandemi) terhadap pola belanja daerah secara nasional.